Diorama Lingkaran

Other Frame of Me

KONSEP BARU PENDIDIKAN INDONESIA

diposting oleh lutfi-fpk11 pada 22 May 2012
di Karya Essai peserta Lomba Essay AIBF Airlangga Islamic Book Fair - 0 komentar

Sukses atau tidaknya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dapat ditunjukkan dengan realitas kehidupan masyarakat. Benar bahwa pendidikan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan. Orang yang berilmu tahu cara bagaimanameningkatkan kualitas hidupnya di bidang sosial maupun ekonomi serta aspek lainya.

Kemisikinan bermula dari kebodohan dan kebodohan lahir dari kemiskinan. Rantai keterpurukan yang tak ada habisnya jika dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah memang telah berupaya mengentaskan kemiskinan dari sisi peningkatan kualitas pendidikan dengan mengalokasikan anggaran sebesar 20 % dari APBN. Namun, realitasnya banyak penduduk miskin yang belum bisa menjangkau harga pendidikan yang terlampau mahal menurut standard mereka. Sebenarnya banyak program-program beasiswa yang ditawarkan, tetapi hanya dapat diakses dan dapat dinikmati oleh kalangan tertentu yang tahu caranya dan yang termasuk dalam kriteria kemiskinan. Lalubagi kalangan menengah ke bawah yang tidak termasuk dalam kriteria kemiskinan tetapi tidak dapat menjangkau biaya pendidikan akan menjadi dilema. Pada akhirnya jika mereka memutuskan untuk mengesampingkan pendidikan, hanya akan memperparah tingkat kebodohan.

Pengaruh pendidikan yang telah berlangsung selama ini terhadap dinamika sosial di masyarakat patut mendapat perhatian dari para cendekiawan selaku agen perubahan dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Pendidikan yang berhasil adalah yang mampu menciptakan kehidupan sosial yang baik. Sekarang permasalahan sosial menjadi semakin kompleks, mulai dari permasalahan remaja terkait seks bebas yang telah merambah sekolah dasar dan sekolah menengah, hingga tindakan kriminal pembunuhan, perampokan dan pemerkosaan.

Seks bebas yang dilakukan remaja usia belasan tahun, remaja yang seharusnya masih fokus dalam belajar, merupakan suatu fakta yang menunjukkan bahwa pendidikan yang berlangsung selama ini belum dapat membentengi pengaruh budaya asing negatif di tengah-tengah kemajuan teknologi. Sementara itu, permasalahan sosial berupa tindakan kriminal yang sering menghiasi layar kaca dalam pemberitaan tidak terlepas dari masalah kemiskinan dan kebodohan. Tuntutan hidup yang terus mendesak membuat pelaku kejahatan tidak punya pilihan lain.

Melihat realitas-realitas tersebut, kita perlu memikirkan konsep baru agar pendidikan bisa lebih mengena ke berbagai lapisan masyarakat serta tidak hanya berkutat pada masalah standard nilai (ujian nasional), tetapi fokus pada dampak positif yang diharapkan dari proses pendidikan terhadap kehidupan masyarakat. Sering kali kita lupa bahwa tujuan pendidikan bukanlah untuk seberkas sertifikat kelulusan, tapi lebih dari itu untuk peningkatan kualitas dan kapasitas diri masing-masing individu agar dapat menjalankan peran sebagai anggota masyarakat dengan baik.

Konsep baru pendidikan Indonesia yang diharapkan dapat memberikan

perubahan positif dalam dunia pendidikan, antara lain:

  1.  Menanamkan pemahaman bahwa belajar dapat dilakukan mengenai apa saja, dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja, asalkan sesuatu itu baik bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Segala sesuatu yang terhampar di muka bumi ini patut dipelajari, segala peristiwa yang terjadi di muka bumi ini patut diambil hikmahnya, setiap orang yang kita temui patut dicontoh kebaikannya.
  2. Menanamkan pemahaman bahwa belajar bukanlah untuk mendapat penilaian orang lain, baik berupa nilai tertulis maupun pujian, belajar adalah untuk menjadikan diri mempunyai kapasitas yang lebih untuk berkontribusi dalam kehidupan, nilai atau pujian hanyalah "ikutan" artinya akan menyertai dengan sendirinya.
  3. Menanamkan pemahaman bahwa belajar adalah kebutuhan sebagaimana manusia butuh bernafas untuk hidup. Hal ini akan mendorong setiap orang untuk terus berkembang, tidak gampang puas dengan prestasi yang dicapai, dan berinovasi untuk melakukan perbaikan setiap waktu.
  4.  Pengembangan potensi sejak dini yang disertai penumbuhan minat yang disesuaikandengan bidang keahlian. Dalam hal ini, kemauan menjadi kunci seorang untuk maju. Segudang potensi tanpa adanya kemauan untuk menggali potensi itu adalah omong kosong.

Dengan konsep tersebut, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia tidak hanya terpaku pada bangku sekolah. Infrastruktur dan fasilitas hanyalah sarana penunjang untuk mempercepat proses pembelajaran, yang paling utama adalah isi pembelajaran. Penerapan konsep itu juga akan melahirkan mekanisme pendidikan yang berkelanjutan secara meluas dan tepat sasaran dengan biaya cukup terjangkau.

Pendidikan yang berkelanjutan dimulai dari mendidik diri sendiri dengan berbagai hal dan dari berbagai sumber, kemudian memancarkan kembali kepada orang lain di sekitarnya secara langsung maupun tidak langsung. Betapa besar multiplier effect yang akan dihasilkan dari pendidikan yang demikian. Dari satu orang bisa menularkan kepada orang lain, dari satu anak didik bisa menularkan kepada anak didik yang lain, dan masing-masing akan senantiasa berkembang menjadi lebih baik dari hari ke hari. Maka, kebodohan bisa diatasi, mimpi untuk Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera bisa terwujud.

Pendidikan tepat sasaran berrkaitan dengan pengembangan potensi yang sesuai dengan minat anak dan bidang keahlian yang mutlak diperlukan dalam kehidupan. Ada empat bidang keahlian utama yang bisa dijadikan fokus pengembangan potensi anak didik, yaitu keilmuan, kepemimpinan, pekerjaan profesi, serta finansial. Bidang keilmuan lebih mengarahkan anak didik menjadi pemikir atau cendekiawan yang nantinya bertugas memikirkan pemecahan/solusi terbaik atas permasalahan bangsa dan negara di berbagai aspek kehidupan, misalnya dosen, professor, doctor, dan lain-lain. Bidang kepemimpinan mengarahkan anak didik agar mempunyai kompetensi untukmengatur orang-orang dan sumber daya yang ada demi mencapai tujuan yang ditetapkan, dengan harapan dapat melahirkan pemimpin bangsa yang baik dan bertanggung jawab. Bidang pekerjaan profesi mengarahkan anak didik agar dapat mengabdi kepada masyarakat, misalnya dokter, guru, PNS, dan sebagainya. Bidang finansial mengarahkan anak didik untuk menjadi enterprenuer yang dapat menciptakan

lapangan usaha bagi masyarakat.

Dengan adanya pengerucutan fokus pembelajaran, ujian nasional tidak lagi

menjadi momok bagi anak didik mengingat mereka telah menguasai hal-hal yang akan diujikan, sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Yang diujikan dalam ujian nasional bukanlah ilmu yang masih bersifat umum, tetapi spesial pada bidang-bidang yang mereka pelajari. Selain itu, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan, yaitu:

  1.  keseimbangan jasmani dan rohani, mengingat dalam fisik yang sehat terdapat jiwa yang kuat;
  2. keseimbangan spiritual, tidak hanya pandai akademik tapi juga religius.

      Wujud nyata penerapan keseimbangan jasmani dan rohani adalah dengan memberikan porsi yang cukup terhadap pendidikan jasmani dan kesehatan  serta menjadikan pendidikan agama sebagai pondasi dalam segala aktivitas pembelajaran guna mendukung keseimbangan spiritual. Pada umumnya, penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah hanyalah sekadar kajian keilmuan dengan alokasi waktu yang minimjika dibanding dengan mata pelajaran lainnya. Ditambah lagi kurikulum yang kurang menekankan keterkaitan ilmu agama dengan ilmu-ilmu lainnya. Hal ini akan membentuk persepsi anak didik bahwa agama adalah sesuatu yang bisa dinomorduakan. Bahkan sebagian besar orang tua murid lebih suka putra-putrinya mendapat nilai bagus dalam pelajaran umum daripada pelajaran agama dengan dalih lebih bisa menjamin masa depan. Akhirnya ketika seorang telah terjun ke masyarakat, kebiasaan itu tetap melekat dan memungkinkan terbentuknya pribadi yang hanya mengejar aspek materiil di atas segala hal.

Dalam pancasila yang merupakan falsafah hidup bangsa Indonesia ditekankan

bahwa masyarakat Indonesia ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Jangan menjadikan agama hal yang tabu dalam penyelenggaraan pendidikan dengan dalih menghindari konflik suku, ras, agama, dan adat (SARA). Menghindari konflik tersebut adalah dengan toleransi umat beragama, tetapi bukan berarti sama sekali meniadakannya ketika berbicara ilmu pengetahuan. Sangat penting menciptakan sinergi dalam transfer ilmu pengetahuan dan ajaran agama, agar nantinya dalam tataran implementasi tidak akan  terjadi penyelewengan karena senantiasa dibarengi dengan terbentuknya akhlak yang baik. Keseimbangan spiritual ini dapat pula menjadi tameng bagi remaja terkait bahaya seks bebas yang semakin marak terjadi.

Ketika mulai menerapkan konsep baru ini dalam dunia pendidikan, jangan khawatir alokasi waktu untuk pelajaran keilmuan menjadi berkurang. Pendidikan yang baik diupayakan bukan menjadikan anak super dalam segala bidang keilmuan, tetapi menjadikan anak yang ingin terus belajar untuk perubahan yang lebih baik. Dengan demikian, bagaimanapun kondisi yang dihadapi, bangsa ini dapat cepat menyesuaikan diri dan dapat melaluinya tanpa menimbulkan permasalahan yang berarti.

(Amilia Zakiyyah - Prodip DIII Sekolah Tinggi Akuntansi Negara)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :