Diorama Lingkaran

Other Frame of Me

LITERASI INFORMASI SEBUAH PERANG MELAWAN KETERPURUKAN

diposting oleh lutfi-fpk11 pada 22 May 2012
di Karya Essai peserta Lomba Essay AIBF Airlangga Islamic Book Fair - 0 komentar

            Literasi merupakan istilah yang memiliki banyak turunan, sesuai subyek maksudnya. Literasi, antara lain memiliki turunan ‘literasi media’, ‘literasi teknologi’, ‘literasi komputer’, ‘literasi politik’, ‘new literacy studies.’

 

            ‘Literasi’ awalnya mengacu pada kemampuan membaca dan menulis, tapi sekarang definisi itu sudah tidak mencukupi, apalagi jika dikontekskan dengan teknologi tinggi yang menjadi ciri tahun 2000-an. Dengan begitu standar terhadap literasi pun beragam, sesuai yang mendefinisikan, bergantung banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya masyarakat, fasilitas, dan kebutuhan serta fungsinya. Amerika serikat misalnya, menetapkan tiga standar area literasi bagi kaum dewasa mudanya (young adult). Pertama, ‘literasi prosa’ yang berhubungan dengan membaca dan kemampuan menafsirkan; kedua ‘literasi dokumen’ yang mensyaratkan mampu mengidentifikasi dan menggunakan informasi yang ada dalam beragam bentuk dokumen; ketiga literasi kuantitatif, yang melibatkan penggunaan angka pada isi informasi pada barang cetakan. Di dalam cultural studies, perdebatan tentang literasi juga fokus pada tiga hal, ialah pertama bagaimana literasi mempengaruhi spikologi individu, organisasi sosial, dan reproduksi budaya.

            Globalisasi informasi yang melanda dunia dalam bentuknya yang mutakhir telah melahirkan kondisi informasi global yang membuat kita terbanjiri akan informasi. Setiap hari bahkan setiap menit dan detik kita bisa menyaksikan ‘pertempuran’ berbagai pandangan dunia dalam sebuah informasi. Bersamanya tumbuh kesadaran literasi dalam pengembangan kehidupan manusia. Dunia kini tidak lagi menunjuk pada suatu tempat tetapi telah berubah menjadi sebuah ruang.

            Arus informasi dan teknologi menjadi kekuatan dan kekuasaan yang dapat menentukan dinamika kehidupan masa kini. Menurut Alvin Toffler, “siapa yang menguasai informasi maka ia akan menguasai kehidupan.” Shimon Peres pun berpendapat bahwa ada tiga kekuatan yang dominan: 1. Ilmu pengetahuan, 2. Teknologi sebagai penerapan ilmu pengetahuan, 3. Informasi. Ketiga dominasi ini, kekuatannya bagaikan arus gelombang yang tidak ada yang mampu menghentikan dan menghambatnya.  Dampak logis dari peradaban informasi adalah semakin jauh manusia dari ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin jauh dia dari perkembangan informasi atau tidak menjadi Information society (masyarakat informasi).

            Perwujudan masyarakat informasi masih merupakan jalan yang panjang bagi bangsa kita, mengingat pemerataan informasi belum menjadi fokus utama pembangunan bangsa kita. Sehingga hal tersebut menyebabkan adanya kesenjangan informasi dalam masyarakat, membuat yang di depan cepat sekali dan yang di belakang jauh sekali, situasi yang berat bagi yang mudah lupa (terbelakang/bodoh). Sementara dalam sistem teknologi informasi, semua hal berjalan cepat dan baru, tak mudah dibendung dan dihentikan selalu baru dan baru. Informasi yang lama akan menjadi bahan yang usang dan ketinggalan zaman. Bagi masyarakat desa terpencil/terpelosok, orang-orang miskin, orang-orang bodoh, mereka akan selalu terpinggirkan dari peradaban informasi.

            Bukan hanya dalam masyarakat saja yang mengalami dilema peradaban informasi, dalam kampus-pun juga mengalami dilema ini. Mahasiswa dihadapkan pada permasalahan yang lebih rumit dan pelik, bukan hanya  mengalami kesenjangan informasi tapi juga  mahasiswa dituntut untuk lebih mampu mengolah informasi, memanfaatkannya dan memiliki teknologinya. Hal yang rumit dan pelik bagi mahasiswa yang memiliki sumber ekonomi minim dan kemampuan yang rendah dalam penguasaan teknologi informasi.

Indikator Terpuruknya Kualitas Pendidikan       

            Rendahnya tradisi literasi, menjadikan masyarakat kita sebagai pelaku pasif hanya sebagai penonton informasi. Meminjam istilah Baudrillard, penonton adalah sesosok objek yang tidak memiliki jati diri yang hakiki, hanya ”terminal” dari bermacam-macam jaringan tanda-tanda yang berseliweran. Mereka dengan sukarela akan membuang identitas diri untuk bisa meraih sua­tu kesatuan imajiner dengan ”yang lain”. Penonton seperti itu disebut the silent majority, tak lebih dari sekadar mayoritas yang diam.

            Hal itu berbeda dari proses membaca buku dan informasi,  yang tentu saja lebih ‘’sulit”, membutuhkan keaktifan pembaca untuk menelusuri teks yang tersaji di setiap halaman, mengolahnya, lalu menerjemahkannya untuk mendapatkan persepsi tertentu.

            Giddens dalam The Third Way merekomendasikan, pendidikan yang berkualitas merupakan syarat mutlak untuk mencapai kemajuan di era global. Untuk mencapai pendidikan yang berkualitas diperlukan perangkat dan pendukung pendidikan yang lengkap dan maju, seperti perpustakaan yang ideal dan professional serta sumber daya manusia yang professional. Professionalisme itu ditentukan dari mutu peserta didik, yaitu para pelajar dan mahasiswa yang memiliki banyak informasi dan ilmu pengetahuan.

            Aktivitas intelektualisme merupakan titik awal membangun peradaban. Partisipasi aktif mahasiswa sebagai agen perubahan dalam proses pembudayaan dan pemberdayaan masyarakat menuntut untuk lebih melek akan informasi, sehingga literasi informasi merupakan kebutuhan utama dalam pengembangan intelektualitasnya. Literasi informasi adalah kemampuan untuk mencari, menganalisa, mengevaluasi dan memanfaatkan informasi. Literasi informasi menjadi pendorong utama terciptanya personal empowerment dan student freedom to learn. Literasi informasi memungkinkan pelajar dan mahasiswa untuk menjadi pembelajar seumur hidup, belajar memproses, memanipulasi informasi dan melatih berpikir kritis, sehingga kualitas pendidikan yang lebih baik bisa terjangkau dan terwujud.

            Ketika kemampuan literasi informasi telah dimasukkan sebagai salah satu bekal kecakapan hidup (life skills) yang harus dimiliki pelajar dan mahasiswa agar mampu menjawab tantangan dan problematika kehidupan, maka seharusnya semua elemen yang terlibat dalam konteks pendidikan dan pembelajaran serta stakeholder yang terkait harus mampu mendorong munculnya kemampuan literasi informasi. Perubahan selalu menghadirkan dua sisi harapan dan kekecewaan baru, literasi informasi merupakan sebuah harapan kemajuan dunia pendidikan dan pengetahuan namun juga menghadirkan kekecewaan bagi yang minim akan informasi. Hal inilah yang harus menjadi pemikiran bersama baik oleh pemerintah, masyarakat dan khususnya lembaga kampus dan sekolah agar memberikan kebijakan yang bisa menjembatani dilema-dilema dalam peradaban informasi agar literasi informasi hadir sebagai sebuah pencerahan yang mampu mengentaskan keterpurukan bangsa dari kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan.

(Dewi Wulansari - Sastra Inggris Universitas Diponegoro)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :