Diorama Lingkaran

Other Frame of Me

Amir Sjarifudin Harahap, Nasionalis dari Tanah Batak yang Terlupakan

diposting oleh lutfi-fpk11 pada 06 June 2013
di Biografi Tokoh - 0 komentar

Amir peringatan hari Buruh 1946

    Amir Sjarifudin Harahap, bukanlah nama yang akrab di telinga rakyat Indonesia. Hanya sedikit dari masyarakat negeri ini yang mengenal sosok Amir sebagai seorang pahlawan. Dan memang hampir seluruh buku yang menjadi referensi sejarah di institusi pendidikan negara tidak mengemukakan secara jelas kontribusi Amir dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Justru Amir lebih identik dengan peristiwa Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 di buku sejarah resmi versi pemerintah. Dilekatkannya sosok Amir dengan peristiwa ini sekaligus menjadi stigma bagi nama Amir Sjarifudin dalam sejarah bangsa, dimana Amir lebih dikenal sebagai pemberontak. Benarkah demikian?

Lahir dari keluarga Batak Angkola pada tanggal 27 April 1907 di Medan, Amir Sjarifudin merupakan anak sulung dari pasangan Djamin Baginda Soripada Harahap dan Basunu Siregar . Ayahnya adalah keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas. Sementara ibunya lahir dari keluarga Batak-Melayu di Deli.

Pada tahun 1921 Amir diundang oleh sepupunya yang telah menjadi anggota Volksraad, Mulia, untuk menimba ilmu di Leiden, Belanda. Di Leiden, Amir bersama Mulia tinggal di rumah seorang guru penganut Kristen Calvinis yang bernama Dirk Smink. Pertemuan dengan Dirk Smink inilah yang mengawali perkenalan Amir dengan agama Kristen, dimana pada tahun 1935 Amir memutuskan untuk dibaptis dan menjadi penganut Kristen.

Spirit Anti Kolonialisme

Persinggungan Amir dengan dunia pergerakan dimulai saat ia aktif berorganisasi di Perhimpunan Siswa Gymnasium selama mengenyam pendidikan di Belanda. Ketika berkecimpung di organisasi inilah, Amir menjadi penggerak kelompok diskusi Kristen yang bernama Christelijte Studenten Vreeninging op Java (CSV op Java). Diskusi-diskusi yang diadakan CSV op Java tersebut membahas berbagai persoalan politik yang berkaitan dengan situasi pergerakan nasional di tanah air. Kelompok CSV op Java ini dikemudian hari bermetamorfosa menjadi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Sepulangnya dari Belanda pada tahun 1927, Amir meneruskan pendidikannya di Sekolah Hukum Batavia. Persinggungannya dengan berbagai aktivis pergerakan membuat spirit anti kolonialisme Amir makin membara. Pada tahun 1928, Amir turut berpartisipasi dalam Kongres Pemuda ke-2 sebagai wakil dari Pemuda Batak (Jong Batak).

Tahun 1931, Amir ikut mendirikan Partai Indonesia (Partindo), partai yang mengusung azas Marhaenisme ajaran Bung Karno. Keterlibatannya dalam Partindo membuat Amir akrab dengan pandangan politik nasionalis kiri atau nasionalis kerakyatan. Pandangan politik yang condong ke kiri itulah yang menggerakannya untuk mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia bersama aktivis pergerakan kiri lainnya. Amir juga dikenal sebagai tokoh yang berjuang melalui media massa. Ia menjadi pemimpin redaksi Indonesia Raja, majalah Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI) pada tahun 1928-1930.

Pergerakan politik Amir yang bersifat radikal membuat pemerintah kolonial Belanda ‘gerah’. Pada tahun 1933, Amir ditangkap pemerintah kolonial dan dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena tulisan-tulisan di majalah Banteng yang dipimpinnya dianggap menghina pemerintah.

Pejuang Revolusi yang Berakhir Tragis

Ketika Hindia Belanda terancam oleh invasi Jepang sebagai dampak dari Perang Pasifik, Amir menegaskan posisi politiknya yang menentang pendudukan Jepang atas Indonesia. Pergerakan “bawah tanah” Amir yang menentang pendudukan Jepang membuat Amir kembali menjadi buruan penguasa. Pada tahun 1943, ia ditangkap Kempetai (intelijen militer Jepang). Setahun kemudian, Amir dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Jepang, namun hukuman tersebut urung dilaksanakan setelah adanya intervensi Soekarno.

Pasca Proklamasi kemerdekaan, Amir diangkat sebagai Menteri Penerangan pada kabinet pertama Republik Indonesia secara in-absentia oleh Presiden Soekarno. Kiprahnya dalam pemerintahan dimulai sejak saat itu. Namun Amir tidak meninggalkan dunia politik. Di akhir tahun 1945, ia mendirikan Partai Sosialis bersama Sjahrir.

Gebrakan Amir dimulai ketika menjabat Menteri Pertahanan pada Kabinet Perdana Menteri (PM) Sjahrir I. Amir memperkenalkan lembaga Biro Perjuangan yang mengintegrasikan laskar-laskar rakyat dalam pertahanan revolusi Indonesia. Dari sinilah berkembang konsep “Tentara Kerakyatan”.

Pasca jatuhnya kabinet Sjahrir sebagai akibat dari ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati, Soekarno memberi mandat pada Amir untuk menyusun kabinet. Dengan dukungan PNI dan Masjumi, Amir membentuk kabinet baru pada 3 Juli 1947.

Karir Amir di pemerintahan meredup setelah ia menandatangani Perjanjian Renvile yang sangat merugikan Indonesia. PNI dan Masjumi yang notabene bagian dari pemerintahan Amir menyerang kebijakan tersebut. Amir pun mengembalikan mandat pada Soekarno di awal tahun 1948.

Amir bersama Partai Sosialis yang dipimpinnya bergabung dengan PKI pimpinan Muso dan organisasi kiri lainnya dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan menjadi oposisi pemerintahan baru pimpinan PM Hatta. Kebijakan Hatta yang menyingkirkan laskar-laskar rakyat dari tubuh angkatan perang melalui reorganisasi dan rasionalisasi (Re-ra) menimbulkan kemarahan Amir dan FDR. Amir merasa konsep “Tentara Kerakyatan” yang dirintisnya dibuang begitu saja oleh pemerintah.

Clash antara pemerintah Hatta dengan FDR mencapai klimaks ketika pada tanggal 18 September 1948 pemerintah Hatta menuding FDR melakukan coup d etat di Madiun. Pemerintah Hatta langsung menindak tegas seluruh kekuatan politik yang berafiliasi dengan kaum kiri atau FDR. Amir beserta ribuan orang kiri ditangkap TNI pada akhir November 1948. Amir tetap menyangkal tuduhan kudeta yang dilayangkan pemerintah kepadanya. Ia menegaskan bahwa ia adalah seorang nasionalis yang loyal pada Republik Indonesia. Namun riwayat Amir tampak kian mendekati akhir.

Seperti yang dideskripsikan Fred Wellem dalam bukunya, Amir Sjarifudin : Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (1982), Amir beserta sepuluh orang tahanan politik Madiun lainnya dieksekusi tembak di Ngalihan Solo pada tanggal 19 Desember 1948. Ketika akan ditembak mati, Amir meminta waktu satu jam untuk berdoa. Setelah itu ia menyanyikan Indonesia Raya dan Internationale. Ia pun tewas dengan tangan memegang Alkitab.

Seorang pejuang revolusi menemui ajal secara tragis dengan menyandang status sebagai pemberontak. Seluruh karya perjuangan Amir sejak masa pergerakan nasional hingga revolusi kemerdekaan seakan tenggelam oleh “pemberontakan PKI di Madiun”. Sebuah peristiwa yang hingga kini masih mengundang tanda tanya besar. Begitulah nasib Amir Sjarifudin Harahap, nasionalis berdarah Batak yang terlupakan.



Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/tokoh/pemikiran-tokoh/20110523/amir-sjarifudin-harahap-nasionalis-dari-tanah-batak-yang-terlupakan.html#ixzz2VRp1yzSb 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :